My hubby meski orang Minang asli kelahiran Bukittinggi tidak ingin setiap kali dihidangkan sayur/gulai yang memakai santan untuk makan malamnya. Apalagi setelah memasuki usia 50 tahun ini, dia berusaha untuk selektif memilih bahan makanannya untuk menghindari berbagai penyakit yang biasa menyerang pria seusianya seperti jantung, stroke/darah tinggi, gula, kolesterol dan lain-lain.
Salah satunya dengan cara lebih banyak mengkonsumsi sayuran segar yang meski dimasak tetapi tidak terlalu lama dan tidak bersantan. Tapi yang namanya orang Minang tetap saja punya model sayur yang berbeda dengan sayur yang biasa dibuat di Jawa. Sayur Pucuk Daun Labu yang juga merupakan resep warisan asli daerah Sungai Puar, Bukittinggi, Sumbar merupakan salah satu sayur favorit my hubby.
Bahan :
1 ikat daun pucuk labu muda dipotong/dipilih daun/batang yang muda (yang keras dibuang)
3 butir bawang merah diiris halus
1 sendok teh cabe giling kasar
1 1/2 gelas air
garam secukupnya
Cara membuat:
- Tuangkan 2 sendok minyak goreng di wajan, dipanaskan.
- Setelah minyak panas, masukkan bawang iris lebih dulu, lalu masukkan cabe giling untuk ditumis.
- Setelah keduanya tercampur rata dan agak layu, masukkan daun pucuk labu dan air, balik-balik supaya tercampur, tambahkan garam secukupnya lalu tutup panci dengan penutup, kemudian biarkan sampai matang dengan sesekali dibalik-balik (perhatikan api kompor sedang saja, jangan terlalu besar supaya air sayur tidak habis).
- Sebelum diangkat, cek dulu rasa garamnya, lalu ditaruh di mangkuk kaca.
- Sayur siap dihidangkan untuk keluarga tercinta.
Selamat mencoba!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar