November 22, 2009

Nikmatnya 'Katupek Gulai Paku' dan 'Gulai Rabuang' Buatan Sendiri

Photobucket
































Karena weekend ini kami tidak berencana ke Bandung mengunjungi Abang Andi anak sulung kami yang kuliah di ITB, my hubby hari Sabtu pagi mengajak saya ke pasar tradisional untuk membeli beberapa bahan masakan tradisional 'Padang' untuk dimasak sendiri dirumah. Ya, kali ini my hubby inginkan saya untuk memasak 'katupek gulai nangka/paku' favoritnya.

My hubby adalah 'urang awak' yang lahir dan besar di Bukittinggi. Yang namanya orang Minang selera makan sulit sekali diubah, sehingga meski jauh merantau ke mana-mana yang dicari masakan Minang juga. Salah satu masakan favorit my hubby adalah 'katupek' atau lontong yang biasanya dengan sayur/gulai nangka or paku (pakis). Kalau gulai nangka biasanya ada tambahan tulang sop/daging/iga, sedangkan gulai paku dengan udang didalamnya supaya lebih gurih, namun ini tergantung selera pembuatnya.

Sebenarnya di pasar Tradisional Kampung Ambon Jakarta dimana kami biasa berbelanja hari Sabtu/Minggu, ada yang menjual katupek gulai nangka/paku. Namun entah mengapa, my hubby lebih suka saya membuatkan untuknya karena alasannya gulai nangka/pakis buatan istrinya lebih maknyuss...dan wueenak...(Ge-er!). Jujur bukan muji diri sendiri, sayapun mengamininya, karena bagaimana tidak untuk membuatnya saya selalu mencari bahan yang terbaik tanpa memikirkan biaya ekonomisnya. Saya sangat royal dengan udang dan bumbu penunjangnya supaya lezat. Tapi mengingat saya tidak memakai jasa PRT dirumah yang terbayang segala kerepotannya. Namun untuk sesekali membuatnya saya tidak berkeberatan karena bagaimanapun menyenangkan hati my hubby berpahala dan cinta itu terkadang hadir dari perut....lalu turun ke hati...(woi...mesraaanya!).

Ternyata hari itu banyak paku/pakis yang dijual di abang sayur langganan. Saya dan my hubby akhirnya memutuskan untuk membuat 'katupek gulai paku'. Selain itu my hubby meminta saya membuatkan pula 'gulai rabuang' (rebung, pucuk bambu muda) karena dilihatnya bahan rebung dalam kondisi yang bagus dan menggiurkan.

Jika bahan gulai nangka (nangka muda) mudah didapat setiap hari, tidak demikian adanya dengan pakis/paku. Hanya pada hari tertentu saja ada dan itupun jumlahnya tidak banyak. Hal ini karena pakis atau paku adalah aslinya tumbuhan liar yang hidup di hutan, yang sekarang sudah bisa dibudidayakan meski dalam jumlah yang terbatas. Dan yang suka menggulainya hanya orang Minang. Bentuk pakis/paku batangnya melengkung di ujung dan daunnya kecil-kecil. Paling enak pakis ini digulai hijau. Warna hijau pada gulainya ditimbulkan oleh zat klorofil pada daun dan batang pakis. Rasa gulainya sepet-sepet asem pedas. Sayur pakis dimasak dengan santan yang sudah dibubuhi bumbu dasar (bawang merah, lengkuas, jahe, sedikit kunyit, sereh). Rasa pedas diperoleh dengan menambahkan cabe hijau, sedangkan rasa asem diperoleh dengan memasukkan asam kandis. Asam kandis adalah asam khas Sumatera, yang biasanya dijual di pedagang bumbu dari Padang. Supaya enak ke dalam gulai paku dimasukkan udang berukuran kecil secukupnya untuk menambah aroma.

'Gulai rabuang' adalah salah satu makanan tradisional dari daerah Minang pula. Sebenarnya, rebung diambil dari akar bambu hijau yang muda. Warnanya putih kekuning-kuningan. Sebelum dimasak/digulai, pucuk bambu muda ini harus dipotong-potong dulu dan direbus lama supaya lunak/mudah digulai serta menghilangkan getah/bau bambu. Saat ini biasanya sudah dijual dalam keadaaan setengah jadi yang kemudian kita olah lagi dengan beberapa bahan seperti santan kelapa, bawang merah/putih, sereh/kunyit, garam, rebung, daun salam dan lain-lain.

Sampai dirumah, saya dan my hubby dengan bercanda ria bergotong royong memasak 2 masakan tradisonal Minang itu. Hasilnya seperti apa, nah anda bisa lihat seperti foto di atas. Yang pasti..maknyuuussss....wueeeenak tenan..:))))))))))

Tidak ada komentar:

Posting Komentar